KEARIFAN LOKAL DALAM NOVEL DAWUK KARYA MAHFUD IKHWAN SERTA RELEVANSINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
A.
Latar
Belakang
Kearifan lokal
merupakan salah satu kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Dalam jurnal karya
Muhammad Satria aji @student.uns.ac.id yang berjudul kearifan lokal dalam novel
Dawuk Mahfud Ikhwan serta relevasinya dalam pembelajaran sastra di SMA menganut
mengenai pembedahan hal-hal yang ada pada novel Dawuk yaitu kearifan lokal yang
digunakan dalam bahasa novel tersebut. Dengan kearifan lokal tersebut dalam
novel memuat implementasi-implementasi dalam pembelajarannya. Menyampaikan
pesan-pesan dalam bentuk bahasa dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif
dengan menggunakan pendekatan antropologi sastra. Kearifan lokal yang
tersampaikan dalam novel dipaparkan dalam beberapa bentuk dalam kehidupan
masyarakat. Dalam jurnal ini dijelaskan mengenai kearifan lokal berupa sistem
bahasa juga menunjukan mengenai sistem pengetahuan tentang alam, flora, sosial,
agama, dan pendidikan.
B.
Tujuan
Artikel
Tujuan artikel ini untuk
mendeskripsikandan menjelaskan mengenai bentuk kearifan lokal dalam novel Dawak
karya Mahfud Ikhwan dan relevansi novel Dawuk . Tujuan ini disampaikan dalam
bentuk penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan
antropologi sastra.
C.
Pembahasan
Penelitian ini diperoleh dari novel Dawuk karya
Mahfud Ikhwan dan hasil wawancara dengan narasumber, yaitu guru bahasa
Indonesia. Sumber data penelitian ini adalah dokumen dan informan. Kearifan
lokal yang terdapat pada novel Dawuk karya Mahfud Ikhwan terbagi menjadi tujuh
bentuk. Masyarakat
desa pesisir utara Jawa Timur di pinggiran hutan jati beragama Islam. Meskipun
memeluk agama Islam, tidak semua masyarakat Jawa menjalankan ibadah secara
murni sesuai ajaran Islam, sehingga dalam masyarakat terdapat dua golongan,
yaitu golongan Islam santri dan Islam kejawen. njukkan bahwa tokoh Mat Dawuk,
Inayatun, dan Pak Imam memeluk agama Islam. Mat Dawuk melaksanakan salat Jumat
di masjid dan ia juga mengaji. Inayatun ikut mengaji bersama Mat Dawuk. Pak
Imam melaksanakan salat malam atau tahajud dan juga mengaji.
Mereka melaksanakan salat dan sesekali mengaji atau
membaca Al-Quran. AlQuran merupakan kitab suci umat Islam. Masyarakat desa di
pesisir utara Jawa Timur terlihat memeluk agama Islam dengan sangat taat, namun
mereka tentunya tidak lepas dari kemaksiatan. Terlihat dari luar mereka sangat
taat beribadah seperti menjalankan salat dan mengaji tetapi mereka juga tidak
bisa menahan nafsu mereka. Masyarakat desa di pesisir utara Jawa Timur memang
rajin beribadah, mengerti dan paham tuntunan dalam menjalankan ibadah. Meskipun
begitu mereka tidak bisa menahan nafsu mereka. Pada akhirnya perserongan tidak
dapat terhindarkan sebab mereka yakin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa akan menjaga
aib hambanya. Mereka yakin terhadap keberadaan Tuhan dan Tuhanlah yang
berkehendak atas apa yang telah diusahakan hambanya. itulah yang kemudian
menjadikan mereka tawakal, menyerahkan semua hal atas apa yang telah diusahakan
kepada Tuhan. “Ya kita cari yang lain yang lebih ampuh. Lalu dicoba lagi. Kalau
sudah begitu dan masih tidak mempan, ya entah. Sudah ikhtiar ke sana kemari, ya
tinggal tawakal saja.” (Ikhwan, 2017: 148)
Orang-orang desa pesisir utara Jawa Timur di
pinggiran hutan jati meyakini akan kuasa
Tuhan atas segala sesuatu, namun mereka masih juga percaya terhadap makhluk
halus dan roh gentayangan. Seperti orang Jawa di mana pun, orang Rumbuk Randu
percaya akan roh gentayangan, sukma-sukma tak tenang, jiwa-jiwa penasaran, dan
orang-orang yang menjumpai ajal dengan cara tak semestinya. Petang itu, hal
itulah yang mereka yakini. Dan, dengan demikian, mereka semakin yakin bahwa Mat
Dawuk memang telah mati. Keyakinan mereka bahwa Mat Dawuk telah mati dan petang
itu arwahnya gentayangan begitu kuatnya sehingga mengabaikan kenyataan bahwa
saat itu masih terlalu sore bagi roh seseorang, sepenasaran apa pun, dan
seburuk apa pun cara kematiannya, untuk keluar (Ikhwan, 2017: 106).
Bentuk kearifan lokal dalam novel Dawuk yang paling
dominan adalah sistem religi. Hal tersebut berkaitan dengan latar belakang
pengarang. Mahfud Ikhwan berprofesi sebagai penulis novel, editor, fasilitator
di Bengkel Menulis Gerakan Literasi Indonesia (GLI), serta penulis ulasan sepak
bola dan film India. Selain ia pandai dalam urusan kepenulisan, ia juga tidak
meninggalkan urusan keagamaannya. Mendapatkan berbagai pelajaran hidup dari
lingkungan keluarganya yang tidak hanya
mengajarinya tentang ilmu dunia, namun juga ilmu akhirat. Mahfud Ikhwan berada
dalam lingkungan yang memiliki kepercayaan agama Islam, begitu pula dirinya
yang juga beragama Islam. Sastra yang ia ciptakan pun memiliki kandungan.
islami yang dapat memberikan pengetahuan terhadap pembaca. Ketujuh bentuk
kearifan lokal dalam novel Dawuk karya Mahfud Ikhwan dapat mengatur tatanan
kehidupan masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sibarani
(2012: 112113) menjelaskan bahwa kearifan lokal adalah kebijaksanaan atau
pengetahuan asli suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya
untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat.
D. Kesimpulan
. Kearifan lokal yang
terdapat pada novel Dawuk karya Mahfud Ikhwan terbagi menjadi tujuh bentuk.
Tujuh kearifan lokal tersebut meliputi peralatan kehidupan, mata pencaharian,
sistem kemasyarakatan, sistem bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan sistem
religi. Pada novel Dawuk ini kearifan local yang paling banyak pada sistem
religi yang dapat digunakan sebagai pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia.
Berdasarkan penelitian ini diharapkan siswa hendaknya memanfaatkan novel Dawuk
karya Mahfud Ikhwan untuk menambah wawasan mengenai kearifan lokal budaya Jawa,
selain itu guru juga dapat menjadikan novel ini sebagai bahan ajar sehingga penanaman
karakter yang baik dapat terlaksana melalui kearifan lokal. dan pembaca
sebaiknya dapat mengambil nilai-nilai positif dan meninggalkan hal-hal negatif
yang terdapat dalam novel Dawuk.
NIM : K1519081
Mahasiswa Program Studi ptb.fkip.uns.ac.idI Fakultas fkip.uns.ac.id
Review
tersebut dapat ditemukan di: